Skip to main content

Mengenal Awal Mula Masuknya Agama Islam dan Kerajaan di Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Permulaan Agama Islam Masuk ke Aceh

Di pesisir timur utara pulau sumatera disana berada daerah yang bernama Perlak. Penduduknya telah mempunyai kemajuan-kemajuan, terutama dalam bidang pertanian dan perniagaan. Mereka telah dapat menghasilkan, selain dari pada bahan keperluan sehari-hari seperti padi, tebu, kelapa dan lain-lain dari tanaman muda, mereka telah sanggup pula menghasilkan bahan-bahan perniagaan seperti lada hitam, lada putih, damar, kemenyan, sutera, gading gajah, sumbu badak dan berbagai macam dari penghasilan hutan. Saudagar-saudagar dari daerah lain di kepulauan Indonesia, Siam, Malaka dan lain-lain negeri sering mendatangi untuk membeli hasil-hasil negeri Perlak.

Dalam tahun 173 H/800 M datanglah sebuah kapal dari negeri “Atas Angin” (Arab, Baghdad, Parsi, Mesir atau India) ke Pelabuhan mereka yang disebut Bandar Perlak. Anak buah kapal itu sendiri dari para saudagar Muslim, pemimpinnya/nahkodanya bergelar Khalifah.

Keadaan penduduk perlak dimasa itu dalam soal keagamaan adalah sebagai penduduk di daerah-daerah lain kepulauan Indonesia, ada juga yang beragama Hindu, ada yang beragama Budha dan ada juga yang menganut aliran Animisme. Daerah Perlak adalah daerah yang jauh dari pusat pemerintahan Sriwijaya di Palembang, yaitu kerajaan Budha yang berkuasa dimasa itu yang juga menguasai selat Malaka dan daerah-daerah disekitarnya. Rakyat negeri Perlak dipimpin oleh seorang pembesar bergelar “Meurah”.

Saudagar-saudagar Khalifah itu sangat menarik perhatian dan memuaskan terhadap Bandar Perlak dan penduduknya, karena segala bahan kebutuhan bagi perniagaan mereka cukup didapati di Bandar Perlak dan Penduduknya juga bersifat ramah.

Tidak mustahil dalam rombongan Khalifah ada orang-orang yang berjiwa mubaligh yang sudi menjalankan Dakwah Islamiyah (seruan Islam) bila di dapati peluang dan kesempatan yang baik dengan berbagai cara kebijaksanaanya. Rupanya selama para Khalifah berada di Bandar Perlak mengumpulkan bahan-bahan perniagaan itu, telah sempat mereka menelurkan bibit-bibit ajaran Islam kepada penduduk Perlak hingga tersamai kedalam lubuk hati mereka.

Bibit agama Islam yang ditelurkan oleh para Khalifah dan rombongannya yang datang susul menyusul sesudahnya menjadikan ajaran agama Islam tumbuh subur hidupnya di negeri Perlak. Tidak mustahil selama itu disamping penduduk asli yang telah beragama Islam ada juga orang-orang Arab dari partai Syiah dan orang-orang Parsi yang bermukim dan kawin dengan wanita Perlak yang kemudian mereka beranak cucu di sana.

Semangat Islam yang meluap-meluap dalam masyarakat rakyat Perlak, setelah bermusyawarah pada bulan Muharam, hari selasa tahun 225 H/840 M berdirilah kerajaan Islam yang pertama di Nusantara yaitu di Perlak. Sebagai kenang-kenangan kepada pembawa Islam pertama ke negeri Perlak yaitu rombongan dari Nahhuda Khalifah, maka Bandar Perlak diganti Namanya dengan Bandar Khalifah.

Dari sejarah dapat diketahui bahwa dari Perlak agama Islam berkembang ke Nusantara yang mula-mula berkembang di daerah Aceh sendiri di susul kemudian ke Semenanjung Malaka dan kemudian Kerajaan Samudra Pasai akhirnya Kerajaan Aceh Darussalam terus berkembang ke daerah lainnya di Nusantara (Indonesia) dan inilah yang menjadi Aceh di juluki sebagai Serambi Makkah.

Sejarah Aceh jika dipetakan melalui arah mata angin, misalanya dengan Sejarah Aceh dengan Timur Tengah akan menampilkan kedatangan Islam, sejarah sosial intelektual, sejarah diplomasi. Dari sini dapat dilihat bahwa Aceh merupakan  tempat pertama kali Islam bertapak di Nusantara.

Aceh Negeri pertama masuk Islam di Asia Tenggara pada abad ke 8. Kerajaan Islam pertama yang muncul di Peureulak Aceh Timur sekitar tahun 850 dengan ibukota Banda Khalifah. Kemudian Muncul kerajajaan Samudera Pasai di Aceh Utara. Sejarah dua kerajaan ini dicatat oleh Marco Polo warga Italia dan Ibnu Batutah warga Arab pada masa Kerjaaan Sultan Malik uz Zahir.

Pada tulisan berikutnya akan membahas mengenai Kesultanan Perlak meliputi: Pemerintahan di Perlak, Raja-raja Kerajaan Perlak (Dinasti Saiyid Maulana dan Dinasti Makhdum Johan Berdaulat) hingga Penggabungan Perlak dengan Samudera Pasai.

Berikut beberapa referensi yang penulis gunakan:

  1. Bustamam, Kamaruzzaman. 2017. Acehnologi Volume 2. Banda Aceh: Bandar Publishing.
  2. Djamil, Muhammad Junus. 2005. Gerak Kebangkitan Aceh- Kumpulan Karya Sejarah. Bandung: CV. Jaya Mukti.
  3. Kawilarang, Harry. 2008. Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki. Banda Aceh: Bandar Publishing.



Comments

Popular posts from this blog

Gedung Agung, Istana Kepresidenan RI di Yogyakarta

Hai apa kabarnya? Tulisan “Setiap Langkah Membawa Makna” kali ini akan berbagi mengenai Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Baca juga terkait Balai KirtiMuseum Kepresidenan RI .   Istana Kepresidenan Yogyakarta Istana Kepresidenan Yogyakarta atau lebih dikenal dengan sebutan “Gedung Agung”   terletak di pusat kota, lebih tepatnya berada di ujung Jalan Ahmad Yani sebelum Jalan Mallioboro yang terkenal dengan keramaiannya. Pas di depan Istana juga terdapat bekas benteng VOC Fort Vredenburg yang bisa menjadi referensi objek wisata anda selanjutnya. Istana ini tidaklah tertutup bagi publik dengan pengamanan ketat seperti Istana Negara, Merdeka atau Istana di Bogor yang menjadi kediaman Presiden. Didalam kompleks Istana terdapat berbagai fasilitas, diantaranya sebuah Museum Kepresidenan dan perpustakaan yang menyimpan berbagai benda koleksi penting dan literasi terkait dengan sejarah perjalanan bangsa. Masyarakat umum bisa mengajukan surat untuk berkunjung atau ...

Jadwal Pelayaran Kapal Ke Sabang dan Banda Aceh

Kruee Seumangat,  Mau Kesabang? Jangan khawatir, saat ini blog "Setiap Langkah Membawa Makna" akan meng-update Jadwal pelayaran kapal hari ini dari sabang menuju Banda Aceh atau sebaliknya. Agar memudahkan anda untuk menikmati surganya wisata bahari dunia. Sekedar Info, Sabang memiliki lebih dari 20 spot diving yang sangat menakjubkan, hingga keunikan volcano underwater nya.  Berangkat dari pelabuhan Ulhe-lheu Banda Aceh atau Pelabuhan Balohan di Sabang terdapat dua pilihan kapal. Pertama Kapal Cepat yaitu kapal yang dikhususkan hanya mengangkut penumpang saja (waktu tempuh 45 menit). Dan Kapal Lambat ( ferry ) yang dapat mengangkut penumpang dan kendaraan (waktu tempuh sekitar 1 1/2 sampai dengan 2 jam *tergantung dari kondisi cuaca ). Untuk harga tiket juga berbeda rakan. Tarif kapal cepat untuk penumpang umum Rp. 80.000 dan penumpang khusus ber KTP Sabang Rp. 60.000. Sedangkan harga Tiket Kapal Lambat untuk penumpang kelas ekonomi dewasa Rp. 27.500, Kendaraan Ro...